YOGYA (KRjogja.com) – Demam batu akik yang tengah melanda masyarakat, termasuk DIY melahirkan tindakan rasional atau tidak nalar sehingga mengarah pada tindakan kriminalitas. Kondisi ini dinilai sangat tidak wajar sehingga dibutuhkan kesadaran masyarakat dalam batas-batas proporsionalitas.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengaku terkejut dengan maraknya pencurian batu nisan yang ditenggarai digunakan sebagai batu akik. Seperti kasus pencurian batu nisan milik Sapto Hudoyo di Imogiri dan makam Bagong Kussudiardja berbahan batu pancawarna di Gunung Sempu diduga diambil sebagai bahan dasar pembuatan akik.
“Ini sudah tidak rasional, mungkin memang makamnya dari batu alami yang bisa untuk jadi akik. Tetapi ini sudah berlebihan dan masuk ranah kriminalitas,” tandas Sultan HB X di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Selasa (14/4/2015).
Sultan HB X menyampaikan fenomena demam batu akik yang kini melanda masyarakat, salah satunya di DIY sangat aneh. Menurutnya fenomena tersebut seperti dulu mencari lotre dan tidur dikuburan itu kan aneh. Hal yang perlu dilakukan sekarang ini, bagaimana masyarakat bisa lebih optimistis dan mengerti batas-batas proporsionalitas.
Menurutnya kejadian pencurian maupun peristiwa pencarian batu akik yang mengakibatkan nyama seorang anak melayang sudah merugikan orang lain. Khususnya pencurian batu nisan ataupun batu-batu alami lain sebagai bahan akik, Sultan menghimbau masyarakat DIY jangan melakukan seperti itu karena merupakan kriminalitas dan merugikan orang lain.
“Ini sudah tidak nalar dan tidak wajar, bisa dibawa keranah hukum karena dilakukan perusakan dan penyalahgunaan properti pribadi. Bagi saya sudah tidak rasional dan maunya kaya mendadak saja,” pungkas Sultan. (M-3)
Be the first to comment